TUGAS ARSITEKTUR & LINGKUNGAN

Nama : Anggun Asmiara Putri

Kelas : 2TB06

NPM : 20316881

Dosen : Bpak. AGUS SUPARMAN, S.T., M.T

 

TASK 1

“ Prilaku Manusia yang Menciptakan Keberhasilan atau Kerusakan bagi Lingkungan Melalui Arsitekturnya “

 

Berhasillll atau Tidakkk ??

“ Menelaah Ruang Publik yang ada di Pusat Pemerintahan Kab. Tangerang “

    Sudah lumrah bagi setiap Arsitek apabila merancang sebuah bangunan, baik itu yang bersifat pribadi maupun publik haruslah memperhatikan aspek-aspek di dalamnya, tak terkecuali bagaimana bangunan itu dapat memberikan dampak pada keadaan lingkungan sekitar. Apakah bangunan tersebut dapat menciptakan sebuah keberhasilan ataukah kerusakan…

    Oleh karena itu Arsitektur & Lingkunganlah yang berperan dalam mewujudkannya. Salah satu dari keduanya secara tidak langsung, tidak bisa begitu saja kita abaikan. Hal ini dikarenakan, apabila lingkungan membutuhkan sebuah bangunan yang dapat merubah keadaan sekitarnya maka, Arsitekturlah yang berperan didalamnya. Begitu pula dengan sebuah bangunan yang didirikan dengan fungsi tertentu tidak bisa begitu saja berdiri saat lingkungannya tidak mendukung bangunan tersebut.

    Dengan demikian, pentinglah bagi setiap manusia memperhatikan apakah arsitektur yang mereka ciptakan dapat menunjang kehidupan di sekitar lingkungannya, sehingga kedua hal itu dapat memberikan timbal balik yang menguntungkan bagi kedua pihak, yaitu Arsitektur dan Lingkungannya.

Studi Kasusnya :

    Tidak banyak yang mengetahui bahwasanya terdapat Kecamatan Tigaraksa yang berada di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Meskipun demikian, Tigaraksalah Kecamatan yang menjadi Pusat dari Pemerintahan Kab. Tangerang. Apabila masyarakat datang, mereka akan di sambut dengan sebuah gerbang megah bertuliskan KABUPATEN TANGERANG berwarna merah dengan latar belakang pilar-pilar berwarna ungu. Selain itu pula, masih terdapat hamparan hijau pepohonan yang mendominasi kawasan tersebut.

gerbang-kab-tangerangGerbang

    Kendaraan yang melintasi kawasan tersebut pun tidak perlu merasa khawatir, hal ini di dukung dengan penyediaan jalan utama yang cukup lebar, mulus, serta adanya pepohonan yang membuat suasan sekitar tidak terlalu gersang. Berselang dengan gerbang megah, kitapun akan melihat sebuah Tugu Tiga Tumenggung yang menjadi icon Tigaraksa, sebelum kita memasuki kawasan pemerintahannya.

   Banyaknya gedung-gedung pemerintahan, tak ayal membuat kawasan ini menjadi penuh sesak, hal ini disebabkan dengan pengaturan tata kota yang cukup apik. Diwujudkannya dengan pengaturan yang dibuat tidak menyatu atau terpisah. Gedung-gedungnya  dibuat seperti sebuah cluster yang tersusun rapi. Salah satu komplek yang terbesar dan terluas adalah Kantor Bupati. Di area belakangnya, terdapat Gedung Serba Guna (GSG) yang dimanfaatkan masyarakat setempat untuk kegiatan seperti, perpisahan anak sekolah, seminar, dll serta terdapat Lapangan yang biasanya digunakan untuk upacara Kemerdekaan RI tingkat Kabupaten.

    Letaknya yang berdampingan satu sama lain dan strategis berada di tengah,  membuat jalur menuju ketiganya pun mudah ditempuh dari berbagai arah. Oleh karena bentuknya yang mengitari bangunan, masyarakat pun dapat memanfaatkannya sebagai tempat berolahraga pagi sembari mereka melihat berbagai gedung pemerintahan yang ada disekitarnya. Bisa dikatakan bahwa, arsitektur yang berada di daerah tersebut bukan hanya menyediakan sarana dan prasarannya saja melainkan sudah cukup mendukung perekonomian yang ada disekitarnya.

    Jika dilihat dari sekelumit informasi diatas, kita sudah bisa merasakan kegunaan ruang publik yang ada di daerah tersebut dan masih banyak lagi yang bisa dimanfaatkan untuk kegitaan sehari-hari. Dari lingkup kecil sampai lingkup besar sekalipun. Hal inilah menjadi dasar pembelajaran bagi siapapun yang ingin memanfaatkan area dengan luasan yang cukup, supaya lebih peduli dengan keadaan dan kebutuhan masyarakatnya. Karena bangunan apapun yang akan kita dirikan di suatu lingkungan akan lebih berhasil jika masyarakat ikut andil didalamnya.

   Untuk kasus diatas, saya bisa mengatakan bahwa ruang public yang disediakan pemerintah Kabupatan Tangerang sudah cukup berhasil, karena bukan saja sudah menyediakan keelokan arsitekturnya, namun disisi lain manfaat yang ditimbukan pun sangat-sangat positif. Jadi, bagaimanapun estetiknya arsitektur yang berada pada suatu lingkungan akan bisa dikatakan berhasil apabila ada timbal balik antara kedua. Meskipun bangunan kecil sekalipun, akan lebih diapresiasi bilamana manfaat yang ditimbulkan lebih berpengaruh daripada bangunan besar yang tidak ada andil sedikitpun pada lingkungan dan penggunanya.

 

Sumber :

https://www.kompasiana.com/rushanovaly/mengintip-plus-minus-ruang-publik-di-kota-tigaraksa-tangerang_56088b6dcf7a617805d0ecc8

 

TASK 2

“ Produk Arsitektur Hemat Energi “

Adanya Penerapan Skycourt & Cooling Effect Pada Suatu Bangunan

    Semakin pesatnya perkembangan yang terjadi pada saat ini membuat banyaknya modifikasi di berbagai bidang, tak terkecuali Bidang Arsitektur. Arsitektur menjadi peran yang penting bagi kemajuannya suatu negara, karena hal itu terwujud dengan hadirnya gedung-gedung bertingkat dan menjulang, serta adanya pengaplikasian kecanggiahan teknologi pada suatu bangunan. Meskipun demikian, sekarang ini masih banyak bangunan yang menerapkan system hemat energy untuk memaksimalkan keadaan alam yang ada.

    Meskipun dengan pesat perkembangan memunculkan kecanggihan teknologi yang diterapkan pada sebuah bangunan. Hal itu tidak menciutkan penerapan produk arsitektur yang hemat energy dengan adanya berbagai modifikasi strategi. Terwujud salah duanya dari strategi penghawaan pasif oleh Skycourt & Cooling Effect/Reflect Pool yang telah dijabarkan diatas. Meskipun memanfaatkan keadaan alam demi terwujudnya suatu bentuk yang fungsional, keduanya dianggap sebagai modifikasi produk arsitektur yang cukup berhasil penerapannya, namun tidak tertinggal dengan terciptanya keestetikan pada sebuah bangunan yang ditimbulkan.

Contoh Pengaplikaisan Produk Arsitektur Hemat Energi pada Bangunan :

  1. Skycourt (Taman Gantung)

    Merupakan strategi pengendalian termal dengan cara pengadaan vegetasi di recessed sun spaces dan trasitional space supaya memperoleh passive cooling dan terbentuknya iklim mikro pada bangunan yang diperlukan untuk system penghawaan alami.

Pertimbangan Strategi pada System Skycourt :

A. Jenis Vegetasinya

    Penggunaan jenis vegetasi yang akan diterapkan pada system ini harus sesuai dengan ruangan yang akan diaplikasikan, sehingga manfaat yang akan didaptkan tepat sasaran.

B. Teknisnya

    Jika suatu bangunan yang akan menerapkan Skycourt, maka hal yang sangat penting apabila sarana & prasarananya mendukung. Dengan pengoperasian yang sesuai maka, hasil yang akan didapatkan pun sangat membantu bangunan tersebut menjadi bangunan yang hemat energy. Hal itu didukung oleh struktur bangunan yang mampu menahan beban baik dari segi vegetasinya, media tanamnya, dan airnya. Selain itu, penting pula memperhatikan system waterproof, irigasi, dan drainasenya.

 

Penerapan pada Bangunannya

” Perkantoran Solaris Fusionopolis oleh Ken Yeang di Singapura “

 

  • Solaris merupakan gedung perkantoran dengan 15 lantai yang dahulu digunakan sebagai sarana militer pemerintahan singapura sebelum dialih fungsikan sebagai perkantoran.
  • Terdiri dari 2 tower yang dihubungkan oleh Central Atrium yang telah diberikan penghawaan pasif. Ken Yeang mendesian gedung ini dengan area hijau seluas 8000 m2.
  • Bangunan ini menghemat energy sebanyak 36% dengan meletakkan area hijau mengelilingi seluruh fasade bangunan.
  • Desain Ekologi lainnya yaitu, adanya shaft matahari, ventilasi alami, & atrium besar yang digunakan untuk menangkap matahari, termasuk sun shading louver (menghasilkan bayangan matahari), serta mengumpulkan & mendaur ulang air hujan.
  • Sarana irigasinya terdiri dari pengolahan air hujan berskala besar, dimana air hujan yang dikumpulkan berasal dari perimeter landscape ramp & atap tower kedua. Air ini disimpan pada tangki yang terletak pada rooftop & lantai basement. Jika dijumlahkan, bangunan ini dapat menampung 700m3 air hujan.

 

2. Colling Effect

    Merupakan strategi pengendalian termal melalui efek pendinginan, dalam hal ini udara didinginkan secara pasif tanpa bantuan alat mekanis oleh proses penguapan uap air. Karena kandungan uap air pada udara menjadi bertambah atau terjadinya peningkatan kelembapan udara. Untuk mencegah terjadinya penghabatan pada system ini, maka bangunan yang akan diterapkan harus menyedikan ventilasi/sirkulasi udara yang baik. Contoh penerapan pada bangunan yaitu adanya air kolam pada daerah hunian sebagai cooling effectnya.

Sumber :

http://himaartra.petra.ac.id/blog/2014/11/05/solaris-at-fusionopolis-singapore/

 

TASK 3

“ Contoh Kegiatan yang Berkaitan dengan Sustainable Architecture “

 

PENERAPAN SISTEM BIOMIMETIC/BIOMIMICRY PADA EASTGATE CENTER, DI HARARE ZIMBABWE DALAM EFESIENSI PENGGUNAAN ENERGI BANGUNAN

    Sustainable arsitektur adalah sebuah cara untuk mendukung konsep berkelanjutan pada sebuah bangunan, dimana konsep yang diterapkan yaitu mempertahankan sumber daya alamnya sehingga dapat bertahan lebih lama dan meminimalisirkan kerusakan pada lingkungan….

    Berbagai konsep dalam arsitektur yang mendukung berlangsungnya arsitektur berkelanjutan, diantaranya yaitu, dalam efesiensi penggunaan energi, efesiensi penggunaan lahan, efesiensi penggunaan material, penggunaan teknologi dan material baru, dan manajemen limbah. Banyaknya konsep dan prinsip yang bisa kita kembangkan inilah tergantung seberapa pekanya seorang arsitek pada keadaan alam dan potensi yang bisa dibangunnya.

    Sebagai buktinya, dalam efesiensi penggunaan energi yang bisa kita terapkan yaitu dengan cara sistem Biomimetic/Biomimicry. Biomimetic/Biomimicry merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mencoba mencari solusi terhadap permasalahan suatu perancangan melalui pendekatan inovasi secara alami, dengan melihat prilaku makhluk hidup, seperti pada binatang.

Nahh.. Lebih jauh lagi…

    Penerapan sistem Biomimikri ini terinspirasi dari seekor binatang, yaitu Rayap Afrika, dimana ia merupakan makhluk yang sangat luar biasa sehingga dapat membuat sebuah sistem ventilasinya sendiri pada keadaan teriknya panas lingkungan tempat tinggalnya yang mencapai 45o C di siang hari dan 3o C pada malam hari, serta mampu mempertahankan suhu didalamnya antara 31-32o C baik siang maupun malam hari…

    Eastgate Center di Harare, Zimbabwe merupakan bangunan dengan arsitektur “hijau” terbaik sekaligus ramah lingkungan, ia sebagai pusat perkantoran dan pertokoan terbesar di negaranya, menerapkan arsitektur dan teknologi berdasarkan prinsip Biomimikri. Bangunan bertingkat hasil desain arsitek Mick Pearce yang bekerja sama dengan para ahli di Arup Associates, tidak menggunakan tata udara ataupun pemanas konvensional. Hasilnya konsumsi energi bangunan tersebut sangat kecil.

Kenapa Mick Pearce terinspirasi dari bangunan rumah rayap?

    Hal itu dikarenakan rayap membuat berbagai macam saluran dan jaringan secara sistematis sehingga udara dan gas maupun kelembaban di dalam dapat terjaga. Suhu konstan di dalam rumah rayap tersebut bisa tercapai berkat prosedur buka tutup ventilasi di bagian atas rumah dan sistem sirkulasi udara yang canggih. Udara segar memasuki lubang ventilasi di bagian bawah dan mengalir ke sebuah basement berdinding lumpur, dan kemudian naik melalui saluran ke puncak bangunan rumah. Rayap-rayap selalu membuka ventilasi udara baru dan menutup yang lama agar tetap dapat mengatur suhu di dalam ruangan.

    Eastgate, yang sebagian besar bangunannya dibuat dari beton, terdiri dari dua bangunan yang saling berhadapan. Bagian atas ruang terbuka di antaranya ditutup dengan menggunakan kaca. Udara segar bergerak bebas memasuki ruang terbuka tersebut. Dengan menggunakan kipas angin, udara segar dari ruang terbuka tersebut dialirkan melalui saluran udara utama yang terletak di tengah-tengah dua bangunan dan menggantikan udara panas yang keluar melalui saluran buang udara di setiap lantai.

    Di sepanjang punggungan atap ubin merah terdapat 48 corong bata yang menancapkan tumpukan internal yang menarik udara dari tujuh lantai kantor di bawahnya.Di bawah kantor ada ruang tanaman mezzanine di balik layar cross chevron dimana menarik udara dari atrium melalui filter.Udara ini didorong melalui bagian pasokan saluran vertikal di inti pusat dari masing-masing sisi kantor.Dari saluran udara diumpankan melalui lantai berongga sampai kisi-kisi tingkat rendah di bawah jendela.

     Karena dihangatkan oleh aktivitas manusia, ia naik ke langit-langit berkubah dimana dialiri keluar melalui port knalpot di ujung masing-masing kubah melalui sistem saluran pasangan batu ke bagian knalpot tumpukan vertikal pusat. Di ruang kantor, lampu latar menggunakan langit-langit berkubah beton untuk memantulkan cahaya ke bawah dan menyerap panasnya.

    Lapisan langit-langit berkubah dan lantai kosong di atas berfungsi sebagai penukar panas.Udara malam yang dingin yang melewati area kosong yang dihias dengan gigi beton menghilangkan panas pada hari sebelumnya dan pada hari berikutnya udara luar yang hangat didinginkan sekitar 3 ° C pada gigi yang sama sebelum memasuki ruangan.

    Para insinyur, Ove Arup & Partners, telah memasang data yang terus mencatat suhu udara. Eastgate menggunakan energi total 35% lebih sedikit daripada konsumsi rata-rata enam bangunan konvensional lainnya dengan HVAC penuh di Harare. Penghematan biaya modal dibandingkan dengan HVAC penuh adalah 10% dari total biaya bangunan. Selama penutupan arus listrik yang sering, atau HVAC karena perawatan yang buruk di gedung-gedung lain, Eastgate terus beroperasi dalam tingkat kenyamanan yang dapat diterima dengan sistemnya yang berjalan dengan konveksi alami.

    Kinerja bangunannya sama atau sedikit lebih baik dari yang diprediksi oleh Ove Arup the Engineers.Grafik data menunjukkan bahwa dalam kondisi rata-rata yang mencakup sepuluh bulan pada tahun 3 ° C pendinginan antara suhu luar dan dalam tercapai.Pendinginan optimal tercapai bila suhu malam luar turun di bawah 20 ° C.Bila suhu 20 ° C terlampaui pada malam hari, terutama karena tutupan awan (yang mencegah radiasi panas yang efisien kembali ke angkasa), dan hari berikutnya jelas terutama pada bulan Oktober atau November suhu tetap cukup hangat.

Sumber :

http://www.mickpearce.com/Eastgate.html&prev=search

 

TASK 4

“ Cara Menerapkan Smart City untuk Menunjang Keberlanjutan “

 

“ Optimalisasi Ketahanan Air pada Penerapan Smart City dalam Keberlanjutan “

    Pengembangan, penerapan, dan implementasi Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) pada sebuah wilayah atau kota dimana mampu meningkatkan kualitas hidup, mengurangi biaya dan sumber konsumsi, serta membantu meningkatkan interaksi antar kota dan warganya secara efektif adalah tujuan dari optimalisasi penerapan system smart city.

    Pada penerapan system smart city, bukan hanya mengandalkan kemajuan TIK yang di dukung oleh jarigan infrastrukturnya saja, tetapi mampu menggali potensi dan memaksimalkan sumber daya alam yang terbatas, seperti air, lahan, pertambangan, dll. Air merupakan sumber daya yang banyak dicari, digunakan, dieksploitasi pada sebagian orang. Namun, dalam penerapan smart city, konsumsi air ini akan diatur sedemikian rupa sehingga akan terus menerus dijaga keberlanjutannya.

    Untuk mewujudkan atau menunjang indicator-indikator yang ada pada smart city maka diperlukannya peningkatan pasokan air dengan cara memperbaiki infrastruktur alami, yaitu ekosistem hutan dan sungai, sedangkan infrastruktur buatan, yaitu bendungan, irigasi, drainase, dan memfokuskan pada 4 hal, yaitu ketersediaan, aksesibilitas, berkelanjutan, dan keamanan.

  Water smart city merupakan suatu metode dimana sumber air dijaga agar keberlanjutan sehingga memungkinkan generasi masyarakat perkotaan yang akan datang dapat memiliki akses untuk mengelola air dengan infrastruktur pendukungnya sehingga dapat bertahan dan berfungsi meskipun adanya tekanan dari iklim yang ekstrim.

   Pendekatan yang digunakan yaitu, integrasi perencanaan kota dengan siklus air perkotaan supaya kegiatan ekonomi dan bisnis berjalan dengan baik. Tujuannya untuk meminimalkan dampak hidrologi pembangunan perkotaan terhadap lingkungan sekitar. Nahh… integrasi pembangunan perkotaan dan pengelolaan air perkotaan yang berkelanjutan dalam pelaksanaan smart city diukung oleh water smart city yang terpadu dalam 3 komponen, yaitu keberlanjutan ketersediaan air, pengurangan dan pengelolaan air limbah, dan air permukaan.

    Dalam sudut pandang sumber daya air, smart city merupakan suatu konsep untuk dimana dapat mewujudkan indicator dalam smart city tersebut dapat dilayani. Untuk itu dikembangkannya konsep water smart city, dengan 6 langkah, yaitu :

  1. Terpenuhinya suplai air perkotaan, Suplai air perkotaan diperoleh dari PDAM, air tanah bagi masyarakat dalam kota, sedangkan bagi masyarakat pinggiran kebutuhan air bersih selain dari air tanah juga diperoleh melalaui air tampungan atap.
  1. Pengelolaan limbah perkotaan
  2. Pengelolaan Drainase Perkotaan
  3. Pengelolaan Saluran alami perkotaan, meliputi, sungai, parit, alur sungai, dll.
  4. Reycle Water berupa limbah industry.
  5. Ketahanan Air merupakan jumlalah dari keseluruhannya.

 

Untuk meningkatkan ketahanan air dalam rangka menunjang smart city kaitannya dengan water smart city dpaat dipisahkan menjadi 2 bagian, yaitu :

A. Restorasi Kapasitas Saluran Drainase Alami Perkotaan, meliputi :

  1. Retention Pound atau Kolam Konservasi, Kolam ini dapat dibuat dengan memanfaatkan daerah bekas galian, daerah daerah topografi, atau menggali suatu area dikawasan tertentu.
  2. Detention Pound, yaitu kolam konservasi yang dibuat di pinggir sungai, dengan cara memperlebar bentaran sungai diberbagai tempat secara selektif di sepanjang sungai.
  3. Penampungan Air Hujan.
  4. Sumur Resapan.
  5. Biopori.
  6. Menjaga Kualitas Air.
  7. Pengelolaan Air yang Adaptif.

 

B. Memutus Siklus Air Perkotaan, meliputi :

  1. Optimalisasi Pemanfaatan Air dari PDAM.
  2. Reduce Water Use atau Efesiensi Penggunaan Air.
  3. Reuse Water atau pemanfaatan ulang air dari limbah domestic.
  4. Water Treatment atau pemanfaatan ulang kembali air limbah industry menjadi bahan baku penunjang proses produksi.

 

Sumber :

http://repository.ut.ac.id/7077/1/UTFMIPA2017-08-agus.pdf

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s